Pasar disini masih tradisional, jalannya juga agak sempit-sempit gitu (hati-hati ama copet). Nah kalau hujan, becek emang enggak semua tempat sih, alhamdulillah, udah bisa dibilang cukup rapi karena pasar ikan, daging dan ayam dipisahin dengan pasar sayuran/ produk kering.
Dan yang selalu membuat saya bergidik adalah ketika ke pasar basah untuk beli ikan atau ayam. Selalu ada adegan “sadis” yang membuat hati saya terenyuh. Yaitu bagaimana cara penjual “menghabisi nyawa” belut. Belut-belut dalam jumah tertentu dimasukan dalam kantong plastik tanpa air, terus diikat, lalu dipukul-pukulkan ke lantai, dan itu dilakukan oleh semua penjual, ih sadis amat kan, itu sama aja dengan menganiaya. Mungkin mereka melakukannya agar efisien waktu daripada pukul satu-satu. Tapi tetep aja enggak berprikebinatangan. Coba kalau kita digituin… lagian ini mau dimakan lho. Dan akhirnya setelah hampir 1 tahun saya disini, enggak berani beli belut walaupun kalau beli sedikit belutnya enggak dianiaya dulu. ii, geli aja.
Kadang kita lupa dan terlalu pongah bahwa kita sama-sama ciptaan Alloh, janganlah sampai menganiaya begitu apalagi mau dimakan. Sama kejadiannya dengan ayam potong seperti pada gambar (itu illustrasi ya, ambil di google), kan kasian tu ayam. Sudah diikat dempet-dempet terus dijungkirbalikan, dibawa pake motor tanpa helm (eh ^^) pasti pusing tuh ayam sampai tujuan. Udah mau dipotong eh dianiaya dulu. Tega amat hanya karena mau hemat waktu dan tempat/modal.
Manusia kadang-kadang emang lebih sadis, suka-suka hatinya saja. Padahal di Islam kita diajarkan berbuat baik pada semua ciptaan Alloh termasuk sama binatang-binatang juga alam.
Itu aja cerita sadisnya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar