Minggu, 31 Januari 2016

Sayang Anak Tapi Ga Sayang Nyawa

(ilustrasi dari google)



Motor merupakan alat transportasi yang paling praktis saat ini. Benar enggak? Dijalan, tiap sebentar motor lalu lalang. Yang bawa dan dibawa pun beraneka ragam. Dan yang paling saya soroti adalah ketika melihat pengendara sepeda motor itu anak di bawah umur, seperti anak SD dan SMP. Jujur ngeri saat melihatnya. Anak-anak yang belum matang secara fisik dan mental, membawa motor dijalan raya. Artinya sama dengan mengadu nyawa. Motor memang sangat digemari, bahkan seperti kebanggan bisa membawa motor, apalagi anak-anak zaman sekarang. Cobalah tengok di sekolah-sekolah, parkiran penuh dengan sepeda motor. Motor seperti mempunyai prastise tersendiri. “ Ini loh gue dengan motor gue”.

Yang anehnya lagi. Saya pernah melihat seorang anak SD membawa motor dengan memboncengi ayah atau ibunya. Bukankah itu terbalik yah. Kenapa kok malah anaknya yang membawa, apa yang ada dipikiran orang tuanya saat itu. Atau anak SD membawa motor ketika ke warung yang bisa dibilang cukup dekat dengan alasan biar cepat dan disuruh oleh orang tuanya.  Nah lho, kenapa malah orang tua yang menyuruh dan mengajarkan anaknya membawa motor? Alasannya cukup 1 kata, praktis. Kalau anak bisa membawa motor jadi gampang disuruh-suruh. Seharusnya orangtua berfikir akan keselamatan anaknya. Bahayanya membawa motor tentu orang tua lebih memahami. Namun, ada orang tua yang mengatakan “yah, kalau mau mati ya mati juga tanpa harus kecelakaan.” Pada saat masih sehat dan aman-aman saja memang itu yang akan keluar dari mulut orang tua. Tapi pada saat terjadi kecelakaan, langsung mencari pembenaran dan mencari orang untuk disalahakan, menyalahkan kendaraan lain yang menabrak. Padahal kesalahan utama terletak tetap pada orang tua yang memberi izin untuk anak belajar membawa kendaraan. Bahkan ada yang sengaja membelikan anaknya motor. Sebagai ungkapan rasa sayang kepada anak. Rasa sayang yang mencelakakan.

Tidak ada satu pun urgensi anak-anak dibawah umur mengendarai sepeda motor, baik sendiri maupun ditemani. Seandainya orang tua benar-benar sayang kepada anaknya, tentu mereka akan menjaga anaknya dari hal-hal yang dapat membahayakan anaknya. “orang tua mana yang ingin anaknya celaka”, sepertinya slogan itu kalah dengan alasan “rasa sayang” pada anak. Eh tapi ada loh orang tua yang bangga ketika anaknya yang masih SD bisa membawa motor. Ups, benar-benar salah kaprah. Orang tua, mari kembalikan fungsi utama kita sebagai pelindung bagi anak-anak. Jangan korbankan anak-anak kita hanya dengan alasan rasa sayang dan bangga. Ijinkan mereka belajar dan mengendarai motor disaat umur mereka benar-benar siap. Siap lahir batin dengan segala resikonya. Untuk generasi Indonesia yang lebih baik lagi. Aamiin