(ilustrasi dari google)
Motor merupakan alat transportasi
yang paling praktis saat ini. Benar enggak? Dijalan, tiap sebentar motor
lalu lalang. Yang bawa dan dibawa pun beraneka ragam. Dan yang paling saya
soroti adalah ketika melihat pengendara sepeda motor itu anak di bawah umur,
seperti anak SD dan SMP. Jujur ngeri saat melihatnya. Anak-anak yang belum
matang secara fisik dan mental, membawa motor dijalan raya. Artinya sama dengan
mengadu nyawa. Motor memang sangat digemari, bahkan seperti kebanggan bisa
membawa motor, apalagi anak-anak zaman sekarang. Cobalah tengok di
sekolah-sekolah, parkiran penuh dengan sepeda motor. Motor seperti mempunyai
prastise tersendiri. “ Ini loh gue dengan motor gue”.
Yang anehnya lagi. Saya pernah
melihat seorang anak SD membawa motor dengan memboncengi ayah atau ibunya.
Bukankah itu terbalik yah. Kenapa kok malah anaknya yang membawa, apa yang ada
dipikiran orang tuanya saat itu. Atau anak SD membawa motor ketika ke warung
yang bisa dibilang cukup dekat dengan alasan biar cepat dan disuruh oleh orang
tuanya. Nah lho, kenapa malah orang tua
yang menyuruh dan mengajarkan anaknya membawa motor? Alasannya cukup 1 kata,
praktis. Kalau anak bisa membawa motor jadi gampang disuruh-suruh. Seharusnya
orangtua berfikir akan keselamatan anaknya. Bahayanya membawa motor tentu orang
tua lebih memahami. Namun, ada orang tua yang mengatakan “yah, kalau mau mati ya
mati juga tanpa harus kecelakaan.” Pada saat masih sehat dan aman-aman saja
memang itu yang akan keluar dari mulut orang tua. Tapi pada saat terjadi
kecelakaan, langsung mencari pembenaran dan mencari orang untuk disalahakan,
menyalahkan kendaraan lain yang menabrak. Padahal kesalahan utama terletak
tetap pada orang tua yang memberi izin untuk anak belajar membawa kendaraan.
Bahkan ada yang sengaja membelikan anaknya motor. Sebagai ungkapan rasa sayang
kepada anak. Rasa sayang yang mencelakakan.
Tidak ada satu pun urgensi
anak-anak dibawah umur mengendarai sepeda motor, baik sendiri maupun ditemani.
Seandainya orang tua benar-benar sayang kepada anaknya, tentu mereka akan
menjaga anaknya dari hal-hal yang dapat membahayakan anaknya. “orang tua mana
yang ingin anaknya celaka”, sepertinya slogan itu kalah dengan alasan “rasa
sayang” pada anak. Eh tapi ada loh orang tua yang bangga ketika anaknya yang
masih SD bisa membawa motor. Ups, benar-benar salah kaprah. Orang tua, mari
kembalikan fungsi utama kita sebagai pelindung bagi anak-anak. Jangan korbankan
anak-anak kita hanya dengan alasan rasa sayang dan bangga. Ijinkan mereka
belajar dan mengendarai motor disaat umur mereka benar-benar siap. Siap lahir
batin dengan segala resikonya. Untuk generasi Indonesia yang lebih baik lagi.
Aamiin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar